//
you're reading...
Ceritaku, Kitchen Outside

Polusi Udara di Bandung Meningkat

Waktu itu iseng-iseng kirim tulisan di koran soal polusi udara di Bandung di editin sama tmn kntr namanya mb erma….eeh…ga nyangka bisa diterbitin…alhamdullilah…hehehe…meskipun baru pemula yaa…lumayan deh… lumayan juga honornya hehehe😛

Polusi Udara di Bandung Meningkat

Asri Indrawati*)

 

Jembatan Pasupati Bandung, Sumber : Google

Perkembangan kota Bandung kian meningkat, terutama sektor industri dan pariwisata. Apalagi sejak tol Cipularang mulai dibuka pada 2005. Industri dan pariwisata kota Bandung semakin menggeliat, menawarkan berbagai macam produk yang menggiurkan. Kota Bandung menjelma bagaikan magnet bagi para wisatawan domestik. Hampir setiap akhir pekan, kota Bandung dijejali kendaraan  yang sebagian besar berasal dari Jakarta. Kondisi ini mengakibatkan kemacetan, terutama di pusat-pusat perbelanjaan, seperti di Jl. RE. Martadinata yang terkenal dengan deretan FO (factory outlet) yang memanjakan para wisatawan. Begitu pula di sekitar Kalapa (alun-alun kota Bandung) yang selalu macet ketika akhir pekan.

Kepadatan arus transportasi ini memberikan setidaknya dua dampak bagi Kota Bandung. Pertama, perkembangan perekonomian semakin meningkat. Kedua, memburuknya kondisi lingkungan kota Bandung. Ini merupakan ironi yang tidak dapat dielakkan lagi. Kondisi lingkungan ini semakin diperparah dengan sedikitnya ruang hijau yang tersedia. Daerah resapan di sekitar Dago, kini banyak yang telah beralih fungsi menjadi restoran-restoran yang menyediakan pemandangan kota Bandung dari atas.

 

Hujan Semakin Asam

Menurut pemantauan yang dilakukan oleh LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) mengenai kualitas udara kota Bandung, selama kurun waktu lima tahun terakhir (2005-2009) terlihat bahwa air hujan di Martadinata dan Kebon Kalapa bersifat lebih asam dibandingkan Pasteur (Jl Dr Djundjunan) dan Dago, sebagaimana tampak pada grafik di bawah ini (Sumber: penelitian mengenai Hujan Asam, Tuti Budiwati dkk, 2005-2009).

Derajat keasaman (pH) air hujan di Martadinata tampak semakin menurun selama lima tahun terakhir (2005–2009) bila dibandingkan dengan pH hujan di lokasi lainnya. Hal ini tampaknya berkaitan dengan semakin banyaknya arus transportasi yang ada di sekitar Martadinata. Seperti diketahui, di lokasi tersebut banyak terdapat mal dan pusat perbelanjaan yang setiap akhir pekan dipadati pengunjung. Penurunan nilai pH  air hujan ini mengakibatkan terjadinya hujan asam.

Apakah hujan asam? Mungkin sudah sering didengar istilah hujan asam. Hujan asam merupakan fenomena pencemaran udara berkaitan dengan banyaknya unsur-unsur polutan di udara, terutama polutan SO2 dan NOx. Nilai pH  sebesar 5,6 menjadi batasan nilai untuk hujan asam. Artinya, apabila suatu wilayah memiliki nilai pH hujan di bawah 5,6 maka wilayah tersebut telah mengalami hujan asam. Apakah sumber utama zat pencemar SO2 dan NOx? Salah satu sumber utama penyumbang polutan ini adalah kendaraan bermotor.

Sehingga, semakin banyak kendaraan bermotor semakin banyak pula polutan SO2 dan NOx yang teremisikan (terpancar) ke udara. Hal ini membuat kualitas udara wilayah tersebut pun menjadi semakin rendah. Meski demikian, ini tak selamanya berbanding lurus. Karena ada proses netralisasi di udara oleh NH4+ (ion amonium) yang berasal dari sumber pertanian, sampah atau lahan pekuburan.

Pasteur dan Martadinata

Kawasan Pasteur sebenarnya juga memiliki tingkat kepadatan transportasi yang hampir sama dengan Martadinata. Namun uniknya, pH air hujan di Pasteur selama kurun waktu lima tahun terakhir tidak mengalami penurunan seperti halnya di kawasan Martadinata. Hal ini terjadi karena di Pasteur terjadi proses netralisasi NH4+ di udara yang berasal dari timbunan sampah dan lahan perkuburan yang banyak terdapat di kawasan itu. Menurut penelitian tentang kandungan air hujan yang dilakukan oleh peneliti LAPAN (Penelitian hujan asam, Tuti Budiwati dkk 2005-2009), konsentrasi kadungan NH4+ dalam air hujan di Pasteur memang lebih besar dibandingkan dengan konsentrasi kandungan NH4+ di Martadinata. Konsentrasi NH4+ inilah yang berpotensi menetralisasi konsentrasi SO42+ dan NO3 nya, sehingga pH air hujan Pasteur menjadi tidak terlalu asam dibandingkan Martadinata. Hanya saja, apabila jumlah konsentrasi SO2 dan NOx yang ada di udara terlampau tinggi, proses netralisasi oleh NH4+ pun akan sulit dilakukan.

Hari Bebas Kendaraan

 Jadi bagaimana prospek lingkungan kota Bandung ke depan? Topografi Bandung yang berbentuk cekungan atau lembah, membuat Bandung tidak memiliki ventilasi udara yang baik. Sehingga, proses pertukaran udara terhalang oleh pegunungan yang mengelilingi kota. Akibatnya, terjadi stagnasi udara di dalam cekungan Bandung. Hal ini sangat berbahaya, karena berpengaruh pada  terakumulasinya (penumpukan) polutan di udara. Proses akumulasi ini menyebabkan tingkat konsentrasi polutan pun semakin meningkat dari waktu ke waktu.

Lalu, apa yang bisa dilakukan? Penambahan ruang hijau untuk kota Bandung saat ini tampaknya bukan lagi sebuah solusi bijak karena makin sulit lahan yang bisa digunakan untuk ruang hijau. Lebih baik mempertahankan, merawat, dan melestarikan ruang hijau yang telah ada. Pembatasan kendaraan pribadi pada waktu-waktu tertentu, seperti pada akhir pekan mungkin bisa jadi solusi. Ada baiknya program hari bebas kendaraan bermotor (car free day) yang selama ini rutin dilakukan setiap minggu di kawasan Dago diperluas untuk lokasi-lokasi padat lainnya. Kegiatan semacam ini berguna untuk mengurangi kepadatan kendaraan bermotor sehingga diharapkan dapat mengurangi jumlah konsentrasi polutan udara di kota Bandung.

 Pikiran Rakyat, 31 Maret 2011


About Koki Imut

Just cooking everything i like

Discussion

6 thoughts on “Polusi Udara di Bandung Meningkat

  1. Wah ilmu baru…jadi bila nilai ph (keasam) tinggi atau lebih dari 5,6 itu malah bagus ya, atau jauh dari yang namanya hujan asam. Namun bila ph rendah itu yang bahaya….nice info.

    makanya mending barudak Bandung pada sepedaan aja biar sehat…bike to work, bike to school and bike to ngeceng..hehehe

    Posted by Tototapalnise | September 30, 2011, 5:37 am
  2. Kalo nilai pH nya lebih dari 5,6 ada kecendrungan ga bagusnya juga , dalam artian brarti jumlah asam basahnya sama2 tinggi sehingga pH nya jadi netral, yg artinya jumlah polusi di udaranya tinggi. Soalnya menurut pengalaman yg ada kalau habis kemarau panjang, hujan pertama di musim kemarau itu pH nya pasti lebih dari 7, ketika di analisa konsentrasi ion-ion yang terlarut didalamnya tinggi semua konsentrasinya. Bahaya juga. Demikian

    Posted by Koki Imut | September 30, 2011, 10:19 am
  3. dadadadadaadada

    Posted by sasa | March 21, 2012, 11:35 am
  4. yo kita jaga bumi ini ok

    Posted by sasa | March 21, 2012, 11:35 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Pingback: Studi Kasus Lingkungan Serta Cara Penanggulangannya | mgshafidzdwi's Blog - March 24, 2015

  2. Pingback: Study kasus mengenai lingkungan dikota bandung | omenoman - March 24, 2015

Tulis Pesanan disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives

Kitchen Lover

  • 211,990 Pengunjung

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: